(Deuh… kaya cerita sinetron, pake acara bersambung segala
)
Molting pada LAT.
Pertumbuhan pada LAT ditandai dengan pengantian kulit atau biasanya disebut Molting. Pada umur yang masih muda Lobster Air Tawar mempunyai frekuensi pengantian kulit yang sering, seiring dengan pertumbuhannya, frekuensi molting akan semakin berkurang hingga bebearap bulan sekali. Molting dibagi dalam 3 tahap:
– Pramolting
LAT yg memasuki masa pramolting ditandai dengan mulai berkurangnya nafsu makan, tanda fisik seperti kulit kepala yang mulai terangkat. Untuk menghindari Lobster Air Tawar dari kanibalisme biasanya pada saat pramolting, lobster tersebut sudah dipindahkan ke tempat tersendiri.
– Molting
Waktu molting yang diperlukan oleh Lobster bervariasi sesuai dengan umur dari Lobster tersebut. Pada usia muda lobster hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk molting sedang untuk yang dewasa bisa sampai membutuhkan waktu 3 sampai 4 menit.
Pada masa molting, lobster tersebut sangat lemah sehingga sangat rentan terhadap serangan temannya. Umumnya Lobster tersebut sudah dipindahkan ke tempat molting sehingga lobster tersebut bisa dengan leluasa menganti kulitnya.
– Pascamolting
Pada masa pasca molting, lobster dewasa membutuhkan waktu beberapa hari untuk membuat kulitnya menjadi keras seperti layaknya lobster sebelum molting. Bila kulit lobster tersebut telah keras maka lobster tersebut sudah dapat dikembalikan ke kolam atau aquariumnya.
(Sumber: http://www.budidayalobsterairtawar.com/)
Proses molting dapat dijelaskan lewat gambar berikut ini:
(Sumber Gambar : www.lobsters.org)
Kanibalisme.
LAT termasuk binatang yang memiliki sifat kanibalis. Umumnya LAT yg sedang dalam tahap molting rentan terhadap serangan sesamanya. LAT yg sedang molting biasanya mengeluarkan aroma. Aroma ini biasanya sdideteksi oleh LAT lain seperti makanan yg lezat. Untuk menghindari kanibalisme umumnya Lat yg pd tahap pramolting dipindahkan ke tempat yg lbh aman atau biasanya disebut karantina.
Budidaya RedClaw
Sebenarnya cara mengawinkan RedClaw susah-susah mudah. Hewan ini apabila menemukan suasana yang sesuai untuk tumbuh dan berkembang biak, maka RedClaw akan tumbuh dan berkembangbiak secara baik pula. Di Indonesia umunya peternak LAT memformulasikan perbandingan 3J:5B (3 jantan berbanding 5 betina, atau kelipatannya). Perbandingan ini relatif menghasilkan peluang yang lebih besar agar betina yang bertelur bisa di buahi.
Pemilihan Induk
Pemilihan induk buat pembenihan harus benar-benar jeli. Terutama menyangkut jenis kelamin LAT yang bersangkutan. Jangan sampai yang akan kita pilih untuk induk memiliki sifat yang “cacat”, Hermafrodit (berkelamin ganda) misalnya. Biasanya terjadi pada induk Jantan yang terlihat dengan jelas adanya tanda merah pada capit tetapi setelah diamati di bagian kelaminnya, ternyata memiliki dua kelamin (jantan dan betina), hal ini terjadi akibat adanya perkawinan yang masih satu keturunan. untuk itu disarankan membeli indukan di tempat terpisah sehingga kita benar2 mempunyai calon indukan yang tidak satu keturunan. “Cacat” yang lain misalnya kurang lengkapnya capit pada indukan, ukuran indukan yang terlalu kecil, indukan yang terkena penyakit, dan lain-lain. Untuk pemula disarankan agar mencari informasi yang benar2 detail sebelum memilih indukan bisa dengan cara mencari sumber2 bacaan atau menanyakan pada ahlinya.
