Ma Anah namanya, usianya mungkin sekitar 80 tahunan, nenek renta ini terlihat masih lincah dalam bergerak, tatapan matanya tajam dan masih mengenali orang-orang yang datang kepadanya. Walaupun pendengarannya sudah sangat berkurang tak sedikit-pun mengurangi keceriaan di wajahnya yang putih bersih.
Orang sekitarnya bilang Ma Anah dapat menerawang dan memprediksi masa depan seseorang (kalo tidak bisa dibilang meramal). Orang-orang terdekatnya bilang, itu bukan meramal, karena Ma Anah bukan peramal. Ma Anah hanya sedikit orang yang ditakdirkan Allah untuk memiliki kekuatan lebih, yakni memiliki indera ke enam yang mumpuni. Orang terdekatnya bilang kemampuan yang Ma Anah miliki adalah berkat “kedekatan” Ma Anah dengan Sang Pencipta. Satu lagi yang membuat orang terkagum-kagum adalah Ma Anah pernah mengalami mati suri. Dia sudah dikubur tapi ternyata bisa bangun dan membuka liang lahatnya sendiri untuk kemudian kembali ke rumahnya untuk menjalani kehidupan sebagaimana layaknya orang biasa. Ma Anah bilang dia belum meninggal, dia hanya tidur dalam waktu yang lama, rohnya di bawa ke tempat yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, tempat yang sukar dijelaskan dengan menggunakan akal sehat.
Ma Anah bercerita tentang “tidur panjangnya”, tentang alam yang sangat mengerikan karena banyak orang yang disiksa, Ma Anah juga bercerita tentang alam indah di mana semua penghuninya memiliki wajah yang bersinar, ah… sungguh sesuatu hal yang akan sulit untuk di cerna oleh akal sehat.
Begitu melihat aku, Ma Anah langsung menengok ke arah istriku, lalu bertanya “Ieu Caroge Nopi? (Ini suaminya Nopi??)” Maklum tempat tinggal Ma Anah persis di belakang rumah neneknya istiku, makanya istriku yang duluan dia kenali. Ma Anah Kemudian mengalihkan pandangannya ke arahku dan bertanya.. “Cep dinten naon Weton-na, Nami saha (Hari Lahirnya apa, terus namanya siapa?”), tanya Ma Anah padaku. Sejenak Ma Anah merenung sambil memejamkan matanya, terus melihat telapak tanganku, kemudian tertawa kecil dan Ma Anah berkata, “Cep, Cep mah bakal beunghar, bakal ngalaman gaduh bumi gedong 3 siki, bakal munggah haji, bakal gaduh jabatan luhur, tapi awalna Cep sareng bojo bakal susah heula (Nak, kamu bakal kaya, bakal punya rumah gedong 3 buah, terus nanti pasti naik baji, punya jabatan yang tinggi pula, tapi awalnya kamu dan istri mesti susah dulu).”
Aku hanya nyengir kuda, demikian juga dengan istriku, dalam hati aku hanya bisa bilang, aamiin. Aku bergumam dalam hati… “hmmm.. gimana caranya aku bisa seperti yang Ma Anah bilang?” Saat ini aku hanya karyawan biasa di perusahaan swasta, di tengah krisis global ini, kapanpun pihak pengusaha bisa memberhentikan karyawannya. Terus gimana ceritanya aku bisa memiliki rumah gedong sampe 3 biji, punya jabatan tinggi? kalo awalnya susah memang iya, aku memulai kehidupan berumah tangga dengan istriku benar-benar mulai dari nol (
). Aku juga tidak punya keahlian mumpuni untuk menekuni bisnis yang bisa mendatangkan uang buat keluargaku. Sementara itu istriku hanya seorang guru honorer di sekolah swasta yang mana gaji honor tiap bulannya bisa habis hanya untuk biaya transport ke sekolah.”
Aku hanya mengamini, bukannya aku percaya sama ucapan Ma Anah, aku termasuk orang yang tidak percaya dengan semua ramalan-ramalan, apapun bentuknya. Agamaku jelas melarang orang untuk mendatangi orang lain (baca: orang pintar) untuk menanyakan masa depannya karena hanya Allah yang tahu jalan hidup untuk kita nanti seperti apa. Aku hanya percaya tiada yang tidak mungkin selama kita mau bekerja keras, diiringi doa, insya Allah apa yang kita cita-citakan akan tercapai.
Hmm… aku menghela nafas panjang, ada pelajaran yang bisa aku petik dari Ma Anah, dia semakin tua tapi semangatnya tetap tinggi, dia semakin tua tapi hatinya selalu dia dekatkan untuk Allah Sang Pencipta. Aku harusnya rajin menuntut ilmu, rajin mendekatkan diri dengan Sang Khalik selagi aku masih muda. Satu lagi pelajaran yang aku peroleh adalah aku mendapatkan dorongan semangat untuk maju, terus bekerja keras dan pantang menyerah, ya mudah2an apa yang Ma Anah bilang akan terlaksana. Sekali lagi bukan karena bantuan Ma Anah, tapi karena kerja kerasku, dan tentu saja doa yang selalu mengiringiku, doaku, doa istriku, doa orangtuaku, doa mertuaku, doa saudara-saudaraku, doa teman-temanku, dan tak ketinggalan doa Ma Anah..